Sabtu, 06 April 2013

KEMBALI KE PANCASILA & UUD 1945 ADALAH HARGA MATI..!!

KEMBALI KE TITIK NOL
Deklarasi Forum Kedaulatan Rakyat Satu Juni (FOKER  1.6) Kab.Purbalingga

WARTA BANYUMAS, Purbalingga
Menyusul Deklarasi Forum Kedaulatan Rakyat Satu Juni (FOKER  1.6) Banyumas Raya  di Kabupaten Banjarnegara 10 Februari 2013 lalu, dimana saat itu perwakilan dari Flores, Surabaya, dan Jakarta menyatakan akan menyuarakan hal yang sama di daerah masing masing,  Kabupaten Purbalingga tidak mau ketinggalan dan segera menyusul dengan melaksanakan deklarasi sebagai bagian dari FOKER 1.6 Banyumas Raya,  pada hari Minggu 17 Maret 2013 di Gedung Graha Sarwa Guna Purbalingga.
Kegiatan yang di prakarsai Sasongko Pramudjito (Ketua Umum LSM FAKTA) ini dihadiri oleh lebih dari 150 orang masyarakat Kab.Purbalingga, diantaranya nampak perwakilan dari Muspida Kab.Purbalingga, Kodim 0702 Purbalingga, Polres Purbalingga, Kepala Kesbangpollinmas Purbalingga Drs. Nur Hamam dan dihadiri pula oleh Bupati Purbalingga Heru Sudjatmoko yang datang terlambat serta berbagai elemen masyarakat dan ormas.
Acara di mulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama dengan  khidmat, apalagi dominasi merah putih sangat terasa dalam ruangan tersebut.
Sasongko Pramudjito dalam laporannya sebagai ketua panitia penyelenggara menyatakan keprihatinan atas berbagai permasalahan yang membelit bangsa ini di berbagai daerah seluruh nusantara, inilah yang memicu lahirnya kesepakatan untuk membentuk forum ini. Diharapkan forum ini murni berjalan dengan baju kebangsaan tanpa bergerak dan mengusung partai apapun, kepentingan apapun kecuali kepentingan masyarakat yang lebih besar. “Kita sudah harus melangkah lebih jelas lagi, selama ini kita semua cenderung bergerak dan menyikapi tataran akibat, seperti korupsi,pembodohan kemiskinan dan lainnya, tetapi ternyata cara itu tidak memberikan perubahan secara signifikan, apakah menyelesaikan korupsi di satu daerah akan menyelesaikan tindak korupsi daerah lain.? Jawabannya tidak.. maka itulah mari kita semua melihat dari sisi tataran penyebab, apa yang menyebabkan timbulnya akibat inilah yang harus di benahi, sambil membangun persatuan antar sesama anak bangsa”  papar Sasongko sambil melanjutkan bahwa hal ini bukan berarti siapa melawan siapa, tetapi bagaimana dari keadaan sekarang ini untuk menjadi apa di masa depannya..
Acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi secara spontan oleh Stevanus Bambang Kustejo, dari Jakarta yang sengaja datang di acara tersebut, membacakan puisi berjudul Kabut Bangsa dimana intinya bahwa bangsa ini selama ini diselimuti kabut yang membuat bangsa ini tak mampu melihat, berpikir dan bertindak jernih dalam menata kehidupan dan ber tata negara secara baik.
Pembaca puisi berikutnya, Bagus AR dari LSM Masyarakat Miskin Purbalingga yang meneriakkan bahwa keadaan saat ini belumlah merdeka secara penuh karena berbagai elemen merdeka belum tercapai.
Kepala Kesbangpollinmas Kab.Purbalingga Nur Hamam dalam sambutannya mengatakan bahwa forum ini bisa dibilang sebagai sesuatu yang fenomenal. "Karena saat ini sudah jarang orang berkumpul untuk membicarakan dasar negara kita," ujarnya.  Ia juga mengakui bahwa berbicara soal dasar negara,  tidak semuanya menarik bagi masyarakat sekarang ini. Tetapi semua itu tetap harus dibahas, karena hal itu merupakan sesuatu yang sangat fundamental. "Saya sungguh sangat mengapresiasi kepada yang datang dalam acara ini. Semoga masyarakat bisa kembali mengingat dasar-dasar negara kita sambil mengisi kemerdekaan dengan hal yang positif," tutur Hamam seraya menegaskan Kesbangpollinmas siap bekerjasama. Apresiasi juga patut diberikan pada Bupati Purbalingga  Heru Sudjatmoko yang dalam sambutannya  mengakui kedaulatan rakyat yang berdasarkan pancasila dan sesuai dengan kehendak para pendiri bangsa ini. Heru juga menyambut baik setiap gagasan dan upaya yang dilakukan generasi muda negeri ini untuk secara aktif mengisi kemerdekaan demi menuju perbaikan bangsa dan kerukunan antar sesama. Bupati menyatakan ketertarikan memenuhi undangan ini karena acara ini berupaya menarik semua elemen agar kembali ke titik nol, memulai segalanya dengan melakukan pembenahan dan introspeksi untuk kembali menata diri agar dapat meluruskan kembali arah seperti yang dikehendaki para pendiri bangsa, termasuk bagaimana menata pergaulan antar bangsa.  Bupati juga menyatakan kegembiraannya karena pemrakarsa kegiatan ini adalah saudara saudara Kabupaten Purbalingga yang sangat peduli dengan keadaan bangsa serta perkembangan masyarakat saat ini.
Memasuki acara pembacaan naskah deklarasi yang di bacakan oleh Jatmiko dari Banjarnegara yang dikawal bambu runcing oleh Ketua Pijar (Pusaka Indonesia Jaya Raya) Purbalingga, Triono dan anggotanya, suasana haru, sakral dan khidmat sangat terasa. Nampak beberapa orang baik dari kalangan veteran pejuang dan para sesepuh dan generasi muda terharu dan sempat menitikkan air mata.  
Inti dari Deklarasi adalah pembentukan sebuah wadah anak bangsa dari seluruh elemen rakyat untuk rakyat sebagai alat mencapai cita cita luhur bangsa, berusaha menegakkan suatu tatanan kehidupan dan cara pergaulan hidup yang berpihak kepada sebesar besarnya kepentingan bangsa sebagaimana cita cita proklamasi yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, dan berusaha menyatu dengan kesadaran masyarakat sebagai satu prinsip menuju bangsa yang merdeka bersatu berdaulat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Acara di lanjutkan dengan penanda tanganan secara simbolis oleh hadirin.
Acara Puncak adalah penjelasan tentang FOKER 1.6 oleh Budi Prananta (Mas Tato) sebagai wakil pendiri FOKER 1.6 dimana forum ini adalah forum dari rakyat untuk rakyat dan bergerak demi kepentingan rakyat.
Mas Tato mengungkapkan bahwa sesuai judul acara, Kembali ke titik Nol, memang sudah saatnya kita semua kembali pada satu sikap satu persatuan sesama anak bangsa, Kembali ke titik nol adalah bersama kembali di satu titik, bukan melupakan kejadian masa lalu tetapi menjadikan masa lalu sebagai pelajaran dan secara bersama menata kehidupan bangsa di masa datang.
Kembali ke titik nol adalah meletakkan kembali kesadaran kita pada awal pendirian negara ini, pada semangat membangun bangsa yang merdeka bersatu dan berdaulat, juga meletakkan kesadaran kita pada masa kini dimana tanah air ini sebagai warisan para leluhur kita juga merupakan titipan untuk anak cucu kita, merupakan kewajiban kita mengisi kemerdekaan dan membangun kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai bangsa yang berdaulat.  Mengembalikan kesadaran kita sebagai bangsa yang memiliki cita rasa budaya tinggi, cara demokrasi yang berbeda dengan bangsa lain, cara bersosialisai dan menghargai sesama yang dituntun oleh keluhuran budi bangsa, juga sebagai bangsa yang kaya, yang memiliki sumber daya alam luar biasa banyak, suatu bangsa yang sebenarnya mustahil miskin, tetapi yang terjadi saat ini adalah bangsa yang mustahil kaya, karena masih banyaknya perilaku yang berusaha menghilangkan Pancasila dan perubahan terhadap UUD 1945 sebagai penuntun arah bangsa. “Kita tidak berada dalam kapasitas merubah Pancasila dan UUD 1945, Kita hanya mempertahankan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan keinginan luhur para pendiri negara, hal ini merupakan tanggung jawab dan penghormatan kita sebagai generasi penerus bangsa” pungkas Mas Tato.
Penyampaian Mas Tato sempat terhenti karena kehadiran Bupati Heru Sudjatmoko yang datang terlambat. Mas Tato secara spontan memberikan waktu lebih dulu kepada Bupati untuk memberikan sambutan mengingat jadwal Bupati yang sangat padat. Bupati Heru sendiri menyatakan terkesan dengan gendingan yang mengiringi dan menyampaikan bahwa gending yang mengiringi sangat luar biasa, memberikan semangat tradisional keindonesiaan. Bupati juga menyampaikan penghargaan atas kebijaksanaan Budi Prananta (Mas Tato) yang ditengah pidatonya bersedia memberi waktu kepada Bupati untuk menyampaikan pidatonya, suatu hal yang patut di tiru.
Melanjutkan pidatonya, Mas Tato menyampaikan penghargaan kepada siapapun tadi yang telah mengingatkan Bupati agar tidak bicara pilkada  karena forum ini dibentuk bukan untuk itu tetapi forum ini dibentuk untuk misi yang lebih dari itu.
Menurut Mas Tato, persatuan harus hadir, jika semua elemen yang ada baik ormas maupun elemen masyarakat lain serta rakyat semua mau bergandengan tangan, menyatukan tekad dan sikap maka siapapun tidak berani menindas rakyat. Persatuan butuh mental yang kuat, butuh kekuatan bathin yang luar biasa karena persatuan ini bisa lahir jika masing masing pihak meletakkan ego, tidak merasa lebih dari yang lain.
setelah di selingi perbedaan pendapat yang diakhiri kebersamaan dalam menerima pemahaman yang berbeda tentang keadaan dan kondisi negara saat ini, acara di tutup dengan doa, sementara acara diskusi dan tanya jawab yang semula di jadwalkan tidak dapat dilangsungkan karena waktu. Sasongko sendiri ketika di konfirmasi menyatakan bahwa dalam waktu dekat akan menggelar acara seminar atau diskusi terbuka bagi seluruh masyarakat tentang kedaulatan rakyat serta upaya memupuk persatuan bangsa agar bangsa ini tak mudah di koyak oleh berbagai kepentingan luar yang pada akhirnya akan merugikan bangsa ini sendiri dan memecah belah persatuan serta berkecenderungan menimbulkan laku anarkis “Kita ini harus bersatu, bukan saling bersengketa antara sesama kita, mari kembali ke titik nol dan memulai membangun kembali negara ini yang porak poranda akibat penjajahan ekonomi oleh pihak luar’  tegas Sasongko. (Adhy) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar