Deklarasi
Forum Kedaulatan Rakyat Satu Juni (FOKER
1.6) Kab.Purbalingga
WARTA BANYUMAS,
Purbalingga
Menyusul
Deklarasi Forum Kedaulatan Rakyat Satu Juni (FOKER 1.6) Banyumas Raya di Kabupaten Banjarnegara 10 Februari 2013
lalu, dimana saat itu perwakilan dari Flores, Surabaya, dan Jakarta menyatakan
akan menyuarakan hal yang sama di daerah masing masing, Kabupaten Purbalingga tidak mau ketinggalan
dan segera menyusul dengan melaksanakan deklarasi sebagai bagian dari FOKER 1.6
Banyumas Raya, pada hari Minggu 17 Maret
2013 di Gedung Graha Sarwa Guna Purbalingga.
Kegiatan
yang di prakarsai Sasongko Pramudjito (Ketua Umum LSM FAKTA) ini dihadiri oleh
lebih dari 150 orang masyarakat Kab.Purbalingga, diantaranya nampak perwakilan
dari Muspida Kab.Purbalingga, Kodim 0702 Purbalingga, Polres Purbalingga,
Kepala Kesbangpollinmas Purbalingga Drs. Nur Hamam dan dihadiri pula oleh
Bupati Purbalingga Heru Sudjatmoko yang datang terlambat serta berbagai elemen
masyarakat dan ormas.
Acara
di mulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama dengan khidmat, apalagi dominasi merah putih sangat
terasa dalam ruangan tersebut.
Sasongko
Pramudjito dalam laporannya sebagai ketua panitia penyelenggara menyatakan keprihatinan
atas berbagai permasalahan yang membelit bangsa ini di berbagai daerah seluruh
nusantara, inilah yang memicu lahirnya kesepakatan untuk membentuk forum ini.
Diharapkan forum ini murni berjalan dengan baju kebangsaan tanpa bergerak dan
mengusung partai apapun, kepentingan apapun kecuali kepentingan masyarakat yang
lebih besar. “Kita sudah harus melangkah lebih jelas lagi, selama ini kita
semua cenderung bergerak dan menyikapi tataran akibat, seperti
korupsi,pembodohan kemiskinan dan lainnya, tetapi ternyata cara itu tidak memberikan
perubahan secara signifikan, apakah menyelesaikan korupsi di satu daerah akan
menyelesaikan tindak korupsi daerah lain.? Jawabannya tidak.. maka itulah mari
kita semua melihat dari sisi tataran penyebab, apa yang menyebabkan timbulnya
akibat inilah yang harus di benahi, sambil membangun persatuan antar sesama
anak bangsa” papar Sasongko sambil
melanjutkan bahwa hal ini bukan berarti siapa melawan siapa, tetapi bagaimana
dari keadaan sekarang ini untuk menjadi apa di masa depannya..
Acara
dilanjutkan dengan pembacaan puisi secara spontan oleh Stevanus Bambang
Kustejo, dari Jakarta yang sengaja datang di acara tersebut, membacakan puisi
berjudul Kabut Bangsa dimana intinya bahwa bangsa ini selama ini diselimuti
kabut yang membuat bangsa ini tak mampu melihat, berpikir dan bertindak jernih
dalam menata kehidupan dan ber tata negara secara baik.
Pembaca
puisi berikutnya, Bagus AR dari LSM Masyarakat Miskin Purbalingga yang
meneriakkan bahwa keadaan saat ini belumlah merdeka secara penuh karena
berbagai elemen merdeka belum tercapai.
Kepala Kesbangpollinmas Kab.Purbalingga
Nur Hamam dalam sambutannya mengatakan bahwa forum ini bisa dibilang sebagai
sesuatu yang fenomenal. "Karena saat ini sudah jarang orang berkumpul
untuk membicarakan dasar negara kita," ujarnya. Ia juga mengakui bahwa berbicara soal dasar
negara, tidak semuanya menarik bagi
masyarakat sekarang ini. Tetapi semua itu tetap harus dibahas, karena hal itu
merupakan sesuatu yang sangat fundamental. "Saya sungguh sangat
mengapresiasi kepada yang datang dalam acara ini. Semoga masyarakat bisa
kembali mengingat dasar-dasar negara kita sambil mengisi kemerdekaan dengan hal
yang positif," tutur Hamam seraya menegaskan Kesbangpollinmas siap
bekerjasama. Apresiasi juga patut diberikan pada Bupati Purbalingga Heru Sudjatmoko yang dalam sambutannya mengakui kedaulatan rakyat yang berdasarkan
pancasila dan sesuai dengan kehendak para pendiri bangsa ini. Heru juga menyambut
baik setiap gagasan dan upaya yang dilakukan generasi muda negeri ini untuk
secara aktif mengisi kemerdekaan demi menuju perbaikan bangsa dan kerukunan
antar sesama. Bupati menyatakan ketertarikan memenuhi undangan ini karena acara
ini berupaya menarik semua elemen agar kembali ke titik nol, memulai segalanya
dengan melakukan pembenahan dan introspeksi untuk kembali menata diri agar
dapat meluruskan kembali arah seperti yang dikehendaki para pendiri bangsa,
termasuk bagaimana menata pergaulan antar bangsa. Bupati juga menyatakan kegembiraannya karena
pemrakarsa kegiatan ini adalah saudara saudara Kabupaten Purbalingga yang
sangat peduli dengan keadaan bangsa serta perkembangan masyarakat saat ini.
Memasuki acara pembacaan naskah deklarasi yang di
bacakan oleh Jatmiko dari Banjarnegara yang dikawal bambu runcing oleh Ketua
Pijar (Pusaka Indonesia Jaya Raya) Purbalingga, Triono dan anggotanya, suasana
haru, sakral dan khidmat sangat terasa. Nampak beberapa orang baik dari
kalangan veteran pejuang dan para sesepuh dan generasi muda terharu dan sempat
menitikkan air mata.
Inti dari Deklarasi adalah pembentukan sebuah
wadah anak bangsa dari seluruh elemen rakyat untuk rakyat sebagai alat mencapai
cita cita luhur bangsa, berusaha menegakkan suatu tatanan kehidupan dan cara
pergaulan hidup yang berpihak kepada sebesar besarnya kepentingan bangsa
sebagaimana cita cita proklamasi yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, dan
berusaha menyatu dengan kesadaran masyarakat sebagai satu prinsip menuju bangsa
yang merdeka bersatu berdaulat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Acara di
lanjutkan dengan penanda tanganan secara simbolis oleh hadirin.
Acara Puncak adalah penjelasan tentang FOKER 1.6
oleh Budi Prananta (Mas Tato) sebagai wakil pendiri FOKER 1.6 dimana forum ini
adalah forum dari rakyat untuk rakyat dan bergerak demi kepentingan rakyat.
Mas Tato mengungkapkan bahwa sesuai judul acara,
Kembali ke titik Nol, memang sudah saatnya kita semua kembali pada satu sikap
satu persatuan sesama anak bangsa, Kembali ke titik nol adalah bersama kembali
di satu titik, bukan melupakan kejadian masa lalu tetapi menjadikan masa lalu
sebagai pelajaran dan secara bersama menata kehidupan bangsa di masa datang.
Kembali ke titik nol adalah meletakkan kembali
kesadaran kita pada awal pendirian negara ini, pada semangat membangun bangsa
yang merdeka bersatu dan berdaulat, juga meletakkan kesadaran kita pada masa
kini dimana tanah air ini sebagai warisan para leluhur kita juga merupakan
titipan untuk anak cucu kita, merupakan kewajiban kita mengisi kemerdekaan dan
membangun kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai bangsa yang berdaulat. Mengembalikan kesadaran kita sebagai bangsa
yang memiliki cita rasa budaya tinggi, cara demokrasi yang berbeda dengan
bangsa lain, cara bersosialisai dan menghargai sesama yang dituntun oleh
keluhuran budi bangsa, juga sebagai bangsa yang kaya, yang memiliki sumber daya
alam luar biasa banyak, suatu bangsa yang sebenarnya mustahil miskin, tetapi
yang terjadi saat ini adalah bangsa yang mustahil kaya, karena masih banyaknya
perilaku yang berusaha menghilangkan Pancasila dan perubahan terhadap UUD 1945
sebagai penuntun arah bangsa. “Kita tidak berada dalam kapasitas merubah
Pancasila dan UUD 1945, Kita hanya mempertahankan dan mengisi kemerdekaan
sesuai dengan keinginan luhur para pendiri negara, hal ini merupakan tanggung
jawab dan penghormatan kita sebagai generasi penerus bangsa” pungkas Mas Tato.
Penyampaian Mas Tato sempat terhenti karena
kehadiran Bupati Heru Sudjatmoko yang datang terlambat. Mas Tato secara spontan
memberikan waktu lebih dulu kepada Bupati untuk memberikan sambutan mengingat
jadwal Bupati yang sangat padat. Bupati Heru sendiri menyatakan terkesan dengan
gendingan yang mengiringi dan menyampaikan bahwa gending yang mengiringi sangat
luar biasa, memberikan semangat tradisional keindonesiaan. Bupati juga
menyampaikan penghargaan atas kebijaksanaan Budi Prananta (Mas Tato) yang
ditengah pidatonya bersedia memberi waktu kepada Bupati untuk menyampaikan
pidatonya, suatu hal yang patut di tiru.
Melanjutkan pidatonya, Mas Tato menyampaikan
penghargaan kepada siapapun tadi yang telah mengingatkan Bupati agar tidak
bicara pilkada karena forum ini dibentuk
bukan untuk itu tetapi forum ini dibentuk untuk misi yang lebih dari itu.
Menurut Mas Tato, persatuan harus hadir, jika
semua elemen yang ada baik ormas maupun elemen masyarakat lain serta rakyat
semua mau bergandengan tangan, menyatukan tekad dan sikap maka siapapun tidak
berani menindas rakyat. Persatuan butuh mental yang kuat, butuh kekuatan bathin yang luar biasa karena persatuan ini bisa lahir jika masing masing pihak meletakkan
ego, tidak merasa lebih dari yang lain.
setelah di selingi perbedaan pendapat yang diakhiri kebersamaan dalam menerima pemahaman yang berbeda tentang keadaan dan kondisi negara saat ini, acara di tutup dengan doa, sementara acara diskusi dan tanya jawab yang semula di jadwalkan tidak dapat dilangsungkan karena waktu. Sasongko sendiri ketika di konfirmasi menyatakan bahwa dalam waktu dekat akan menggelar acara seminar atau diskusi terbuka bagi seluruh masyarakat tentang kedaulatan rakyat serta upaya memupuk persatuan bangsa agar bangsa ini tak mudah di koyak oleh berbagai kepentingan luar yang pada akhirnya akan merugikan bangsa ini sendiri dan memecah belah persatuan serta berkecenderungan menimbulkan laku anarkis “Kita ini harus bersatu, bukan saling bersengketa antara sesama kita, mari kembali ke titik nol dan memulai membangun kembali negara ini yang porak poranda akibat penjajahan ekonomi oleh pihak luar’ tegas Sasongko. (Adhy)
setelah di selingi perbedaan pendapat yang diakhiri kebersamaan dalam menerima pemahaman yang berbeda tentang keadaan dan kondisi negara saat ini, acara di tutup dengan doa, sementara acara diskusi dan tanya jawab yang semula di jadwalkan tidak dapat dilangsungkan karena waktu. Sasongko sendiri ketika di konfirmasi menyatakan bahwa dalam waktu dekat akan menggelar acara seminar atau diskusi terbuka bagi seluruh masyarakat tentang kedaulatan rakyat serta upaya memupuk persatuan bangsa agar bangsa ini tak mudah di koyak oleh berbagai kepentingan luar yang pada akhirnya akan merugikan bangsa ini sendiri dan memecah belah persatuan serta berkecenderungan menimbulkan laku anarkis “Kita ini harus bersatu, bukan saling bersengketa antara sesama kita, mari kembali ke titik nol dan memulai membangun kembali negara ini yang porak poranda akibat penjajahan ekonomi oleh pihak luar’ tegas Sasongko. (Adhy)





