Nuansa dan keinginan masyarakat berkaitan dengan
kebangkitan bangsa Indonesia dari keterpurukan
banyak segi kehidupan seakan memperoleh pintu keluar di saat negeri ini
memperingati hari Kebangkitan Nasional dan Hari Lahir Pancasila. Banyak sekali
suara masyarakat dan tokoh berbagai usia menyerukan agar seluruh rakyat negeri
ini baik itu pemimpin negara maupun masyarakat umum segera kembali ke Pancasila
dan UUD 1945 sebagai sendi dasar bangsa dan negara ini dan menerapkan dalam
kehidupan sehari hari. Banyak yang meyakini bahwa jika kita semua melaksanakan
Pancasila secara apa adanya, keadaan negeri ini akan pulih kembali.
Masyarakat Kelurahan Teluk
Kec.Purwokerto Selatan juga tidak mau ketinggalan, Pada hari Sabtu malam
(23/06) lalu bertempat di Balai Kelurahan Teluk diadakan acara memperingati
hari lahir Pancasila dengan pembicara muda Nasionalis Budi Prananta SH atau
yang di Banyumas akrab di sapa sebagai Mas/Bung Tato, dengan tema Nation and
Character Building.
Acara yang diadakan Panitia peringatan
harlah Pancasila ke 67 Kelurahan Teluk ini dihadiri oleh Kapolsek/ yang
mewakili, Danramil/yang mewakili, Tokoh Masyarakat dan agama baik dari ranting
NU maupn Muhammadiyah, Kepala Kelurahan dan jajarannya, Camat Purwokerto
Selatan dan anggota masyarakat.
Acara dibuka dengan tari Gatotkaca
Gandrung yang merupakan salah satu kesukaan Presiden RI pertama Soekarno yang
jika dulu dibawakan oleh Darsih dan Rusman dari Sanggar Sri Wedari Solo. Ketua
Panitia H.Ahmad Fauzi menyampaikan bahwa
acara ini merupakan kepedulian warga Teluk akan carut marutnya kondisi negeri
akibat mulai ditinggalkannya ruh Pancasila dan UUD 1945, dan acara ini diadakan
untuk mengingatkan kita semua agar kembali memahami Pancasila secara
benar, bukan sekedar Pencak silat yang muncul dalam bentuk tawuran antar siswa
dll.
Camat Purwokerto Selatan Titik Pujiastuti
SH,MPd yang mengawali sambutannya dengan pekik merdeka tiga kali, menyampaikan bahwa Pancasila
sebagai pedoman dalam berbangsa dan bernegara itu sebenarnya selama ini sudah
dilaksanankan, seperti kegotong royongan pelaksaan acara malam ini. Lebih jauh
Titik Pujiastutik juga menguraikan penjabaran dari sila sila Pancasila dalam
kehidupan sehari hari yang sebagian diurai dalam bentuk tembang, dan yang
terpenting adalah bagaimana Pancasila dapat di aplikasikan dalam kehidupan
sehari hari. Ibu Camat inipun juga
berupaya merealisasikan dalam bentuk membuat PAUD untuk anak jalanan yang
sampai sekarang terus berjalan.
Gong acara dimuali saat Budi Prananta
SH atau Mas Tato mulai menguraikan Pancasila dari sejarahnya dulu. “Kita tidak
bisa membicarakan Pancasila tanpa mengetahui bagaimana sebenarnya Sejarah
Pancasila itu dilahirkan, situasinya
saat itu dan latar belakang pemikiran Bung Karno saat itu” ungkap Mas Tato .
Lebih jauh Mas Tato juga menjelaskan bahwa dalam jati diri bangsa yang
berkaitan dengan demokrasi, bangsa Indonesia sebenarnya sudah memiliki cara
berdemokrasi sendiri, tidak harus ikut ikutan negara lainnya, karena saat
membutuhkan satu permufakatan untuk
dijadikan satu keputusan, maka jalan yang dilalui adalah musyawarah, dimana
tidak ada yang kalah atau menang, tidak seperti sekarang dimana untuk menang
kita harus mengalahkan yang lain, sehingga mengakibatkan tidak adanya persatuan
lagi. Banyak lagi uraian Mas Tato yang
sangat menarik dan menggugah kesadaran yang diambil dari kehidupan sehari hari dari
pikiran Bung Karno tentang kesejahteraan seperti dalam Pancasila Bung Karno
yaitu sila ke 4, yang merupakan prinsip bahwa
kepala negara tidak menginginkan adanya kemiskinan bagi rakyatnya dan
ini tidak mustahil, Indonesia memiliki
17.600-an pulau, rata rata tanahnya subur, didalamnya banyak mengandung
mineral, emas , minyakdll, lautnyapun
kaya, , jadi jika dikatakan bangsa Indonesia tidak punya modal untuk
memakmurkan rakyatnya itu keliru, karena modalnya sesuai dengan pasal 33 UUD
1945 ayat 3 di mana Bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar besarnya kemakmuran rakyat,
tinggal bagaimana semua itu dikelola demi kemakmuran semua golongan, bukan
hanya segelintir orang.
Inilah salah satu faktor kenapa Bung
Karno menempatkan Pancasila sebagai dasar negara, bukan pilar..!! SEKALI LAGI
Pancasila itu dasar, bukan pilar..!! Ibarat rumah, jika itu pilar lalu
dasar/fondasinya apa,? Sesuatu yang tidak punya dasar/fondasi tentunya tidak
kuat terhadap guncangan. Jadi Pancasila itu dasar dan bukan pilar. Sekarang coba kita lihat Pancasila dalam diri
kita untuk menilai keadaan dan perilaku sekarang, tentu ada yang beranggapan
sesuai ada juga ada yang tidak, dan karena bisa memberikan nilai benar atau
tidak, maka Pancasila dijadikan cara pandang dan dijadikan sebagai dasar hukum dimana hukum tidak tertulis
adalah adat istiadat sedang hukum yang tertulis adalah UUD 1945, jelas Mas Tato.
Perihal kedaulatan, Mas Tato
mengungkapkan bahwa kedaulatan yang dimiliki bangsa Indonesia itu utuh,
berdaulat dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, semuanya untuk
rakyat. Inti dari kedaulatan adalah
wewenang, rakyat tidak berdaulat jika tidak diberikan kewenangan. Wewenang
rakyat itu seharusnya berada pada
lembaga yang bernama MPR dimana rakyat dapat meminta presiden, DPR untuk
melaksanakan amanat rakyat, tetapi sekarang ini hilang fungsinya karena lembaga
ini hanya bertugas membuat undang undang , padahal semestinya disana ada banyak
wakil rakyat yang merumuskan pembangunan
Indonesia, memberikan pengawasan kepada presiden dan DPR untuk melaksanakan amanat
itu demi kemakmuran rakyat, sekarang yang terjadi adalah rakyat tidak lagi
memiliki kedaulatan itu. Begitu juga kedaulatan ekonomi yang terdapat dalam UUD
1945 pasal 33 dimana ayat 3 adalah perintah bagi presiden dan DPR untuk
memakmurkan rakyat, bukan sekedar subsidi.
Sebagai pembanding jika kita melihat Timor Leste sekarang dimana penghasilan hanya dari minyak, disana rumah
sakit gratis sekolah gratis dan jika ada kepala keluarga yang beusia 56 tahun
keatas tidak memiliki penghasilan maka
ia disantuni negara. Timor Leste hanya sejengkel sedang Indonesia ribuan
pulau.Masih banyak lagi uraian dan
kenyataan menarik yang Mas Tato sampaikan termasuk bagaimana UU no 25 tahun
2007 tentang Penanaman Modal. Terakhir Mas Tato mengingatkan bahwa Indonesia
bukan sekedar warisan nenek moyang tetapi titipan anak cucu kita yang harus
kita pertanggung jawabkan kelak.
Acara dilanjutkan Dialog terbuka
dimana banyak warga yang mengajukan pertanyaan dan kerinduan hati tentang
pengejawantahan Pancasila dalam kehidupan sehari hari. Animo warga sangat
tinggi dalam mengajukan pertanyaan. Sebagai tambahan informasi tanggal 29 Juni
besok akan diselenggarakan pagelaran 4 dalang dimana Bupati Mardjoko di
rencanakan menjadi salah satu dalang.
Tidak berlebihan kiranya jika
dikatakan bahwa acara yang unik ini berlangsung sangat sukses, hal ini dilhat
dari sisi penyelenggaraannya yang tidak melulu ceremonial tetapi juga langsung
diadakan dialog terbuka, dengan hampir seluruh hadirin yang datang tidak
meninggalkan tempat sampai acara selesai pada pukul 23.15 WIB, termasuk para
pejabat seperti Ibu Camat dan para tokoh masyarakat lainnya.(Adhy)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar