Senin, 15 Oktober 2012

KEUNIKAN URAIAN PANCASILA DAN DIALOG TERBUKA KELURAHAN TELUK


Nuansa  dan keinginan masyarakat berkaitan dengan kebangkitan bangsa Indonesia dari keterpurukan  banyak segi kehidupan seakan memperoleh pintu keluar di saat negeri ini memperingati hari Kebangkitan Nasional dan Hari Lahir Pancasila. Banyak sekali suara masyarakat dan tokoh berbagai usia menyerukan agar seluruh rakyat negeri ini baik itu pemimpin negara maupun masyarakat umum segera kembali ke Pancasila dan UUD 1945 sebagai sendi dasar bangsa dan negara ini dan menerapkan dalam kehidupan sehari hari. Banyak yang meyakini bahwa jika kita semua melaksanakan Pancasila secara apa adanya, keadaan negeri ini akan pulih kembali.
Masyarakat Kelurahan Teluk Kec.Purwokerto Selatan juga tidak mau ketinggalan, Pada hari Sabtu malam (23/06) lalu bertempat di Balai Kelurahan Teluk diadakan acara memperingati hari lahir Pancasila dengan pembicara muda Nasionalis Budi Prananta SH atau yang di Banyumas akrab di sapa sebagai Mas/Bung Tato, dengan tema Nation and Character Building.
Acara yang diadakan Panitia peringatan harlah Pancasila ke 67 Kelurahan Teluk ini dihadiri oleh Kapolsek/ yang mewakili, Danramil/yang mewakili, Tokoh Masyarakat dan agama baik dari ranting NU maupn Muhammadiyah, Kepala Kelurahan dan jajarannya, Camat Purwokerto Selatan dan anggota masyarakat.
Acara dibuka dengan tari Gatotkaca Gandrung yang merupakan salah satu kesukaan Presiden RI pertama Soekarno yang jika dulu dibawakan oleh Darsih dan Rusman dari Sanggar Sri Wedari Solo. Ketua Panitia H.Ahmad Fauzi  menyampaikan bahwa acara ini merupakan kepedulian warga Teluk akan carut marutnya kondisi negeri akibat mulai ditinggalkannya ruh Pancasila dan UUD 1945, dan acara ini  diadakan  untuk mengingatkan kita semua agar kembali memahami Pancasila secara benar, bukan sekedar Pencak silat yang muncul dalam bentuk tawuran antar siswa dll.
Camat Purwokerto Selatan Titik Pujiastuti SH,MPd yang mengawali sambutannya dengan pekik merdeka tiga kali, menyampaikan  bahwa  Pancasila sebagai pedoman dalam berbangsa dan bernegara itu sebenarnya selama ini sudah dilaksanankan, seperti kegotong royongan pelaksaan acara malam ini. Lebih jauh Titik Pujiastutik juga menguraikan penjabaran dari sila sila Pancasila dalam kehidupan sehari hari yang sebagian diurai dalam bentuk tembang, dan yang terpenting adalah bagaimana Pancasila dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari hari.  Ibu Camat inipun juga berupaya merealisasikan dalam bentuk membuat PAUD untuk anak jalanan yang sampai sekarang terus berjalan.
Gong acara dimuali saat Budi Prananta SH atau Mas Tato mulai menguraikan Pancasila dari sejarahnya dulu. “Kita tidak bisa membicarakan Pancasila tanpa mengetahui bagaimana sebenarnya Sejarah Pancasila  itu dilahirkan, situasinya saat itu dan latar belakang pemikiran Bung Karno saat itu” ungkap Mas Tato . Lebih jauh Mas Tato juga menjelaskan bahwa dalam jati diri bangsa yang berkaitan dengan demokrasi, bangsa Indonesia sebenarnya sudah memiliki cara berdemokrasi sendiri, tidak harus ikut ikutan negara lainnya, karena saat membutuhkan satu  permufakatan untuk dijadikan satu keputusan, maka jalan yang dilalui adalah musyawarah, dimana tidak ada yang kalah atau menang, tidak seperti sekarang dimana untuk menang kita harus mengalahkan yang lain, sehingga mengakibatkan tidak adanya persatuan lagi.  Banyak lagi uraian Mas Tato yang sangat menarik dan menggugah kesadaran yang diambil dari kehidupan sehari hari dari pikiran Bung Karno tentang kesejahteraan seperti dalam Pancasila Bung Karno yaitu sila ke 4, yang merupakan prinsip bahwa  kepala negara tidak menginginkan adanya kemiskinan bagi rakyatnya dan ini tidak mustahil,  Indonesia memiliki 17.600-an pulau, rata rata tanahnya subur, didalamnya banyak mengandung mineral, emas , minyakdll,  lautnyapun kaya, , jadi jika dikatakan bangsa Indonesia tidak punya modal untuk memakmurkan rakyatnya itu keliru, karena modalnya sesuai dengan pasal 33 UUD 1945 ayat 3 di mana Bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar besarnya kemakmuran rakyat, tinggal bagaimana semua itu dikelola demi kemakmuran semua golongan, bukan hanya segelintir orang.
Inilah salah satu faktor kenapa Bung Karno menempatkan Pancasila sebagai dasar negara, bukan pilar..!! SEKALI LAGI Pancasila itu dasar, bukan pilar..!! Ibarat rumah, jika itu pilar lalu dasar/fondasinya apa,? Sesuatu yang tidak punya dasar/fondasi tentunya tidak kuat terhadap guncangan. Jadi Pancasila itu dasar dan bukan pilar.  Sekarang coba kita lihat Pancasila dalam diri kita untuk menilai keadaan dan perilaku sekarang, tentu ada yang beranggapan sesuai ada juga ada yang tidak, dan karena bisa memberikan nilai benar atau tidak, maka Pancasila dijadikan cara pandang dan dijadikan sebagai  dasar hukum dimana hukum tidak tertulis adalah adat istiadat sedang hukum yang tertulis adalah UUD 1945, jelas Mas Tato.
Perihal kedaulatan, Mas Tato mengungkapkan bahwa kedaulatan yang dimiliki bangsa Indonesia itu utuh, berdaulat dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, semuanya untuk rakyat.  Inti dari kedaulatan adalah wewenang, rakyat tidak berdaulat jika tidak diberikan kewenangan. Wewenang rakyat itu seharusnya berada pada  lembaga yang bernama MPR dimana rakyat dapat meminta presiden, DPR untuk melaksanakan amanat rakyat, tetapi sekarang ini hilang fungsinya karena lembaga ini hanya bertugas membuat undang undang , padahal semestinya disana ada banyak wakil rakyat yang  merumuskan pembangunan Indonesia, memberikan pengawasan kepada presiden dan DPR untuk melaksanakan amanat itu demi kemakmuran rakyat, sekarang yang terjadi adalah rakyat tidak lagi memiliki kedaulatan itu. Begitu juga kedaulatan ekonomi yang terdapat dalam UUD 1945 pasal 33 dimana ayat 3 adalah perintah bagi presiden dan DPR untuk memakmurkan rakyat, bukan sekedar subsidi.  Sebagai pembanding jika kita melihat Timor Leste sekarang dimana  penghasilan hanya dari minyak, disana rumah sakit gratis sekolah gratis dan jika ada kepala keluarga yang beusia 56 tahun keatas  tidak memiliki penghasilan maka ia disantuni negara. Timor Leste hanya sejengkel sedang Indonesia ribuan pulau.Masih  banyak lagi uraian dan kenyataan menarik yang Mas Tato sampaikan termasuk bagaimana UU no 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Terakhir Mas Tato mengingatkan bahwa Indonesia bukan sekedar warisan nenek moyang tetapi titipan anak cucu kita yang harus kita pertanggung jawabkan kelak.
Acara dilanjutkan Dialog terbuka dimana banyak warga yang mengajukan pertanyaan dan kerinduan hati tentang pengejawantahan Pancasila dalam kehidupan sehari hari. Animo warga sangat tinggi dalam mengajukan pertanyaan. Sebagai tambahan informasi tanggal 29 Juni besok akan diselenggarakan pagelaran 4 dalang dimana Bupati Mardjoko di rencanakan menjadi salah satu dalang.
Tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa acara yang unik ini berlangsung sangat sukses, hal ini dilhat dari sisi penyelenggaraannya yang tidak melulu ceremonial tetapi juga langsung diadakan dialog terbuka, dengan hampir seluruh hadirin yang datang tidak meninggalkan tempat sampai acara selesai pada pukul 23.15 WIB, termasuk para pejabat seperti Ibu Camat dan para tokoh masyarakat lainnya.(Adhy)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar